"Ben lo beneran dijemput sama Dika?" tanya Aga sambil meletakkan secangkir kopi panas yang dia pesan dengan ojek online. "Satu jam yang lalu sih dia bilang udah on the way kesini, Ga." kataku sambil tetap fokus dengan laporanku yang diminta Pak Asep. "Lo kalo mau duluan gapapa kok" kataku lagi setelah mengecek jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 10.15 malam. "Bener?" "Ya harusnya bentar lagi dia sampe, macet di bunderan HI kali Ga." "Yaudah gue duluan ya Ben." katanya sambil menepuk pundakku pelan. "Kalo dia ngga jadi jemput, lo kabarin gue." Jika bukan karena Pak Asep yang mendadak dibuatkan laporan untuk presentasi besok, aku pasti sudah tidur nyenyak di kamar apartment. Aku terus mengumpat di dalam hati. Tak lama setelah Aga pergi, Dika datang membawa kopi yang biasa ku pesan. "Aku mau kita putus." katanya sambil menatapku dalam-dalam. Suaranya terdengar tegas walau pelan. Aku tercekat mendengar...
Kamu adalah satu diantara banyak hal yang selalu aku syukuri Pernah mengenalmu membuatku paham arti mengasihi Tak perlu banyak kata, tapi kamu selalu siap membasuh laraku Terlalu banyak... Terlalu banyak kalimat yang belum sempat ku katakan Lidahku tercekat, kelu tak punya kuasa Hingga habis waktu tentang kita Kamu seperti cermin dari semesta yang selalu ingin ku jejaki Kamu adalah rindu yang membuat setengah hatiku hilang daya Aku disini melihat sisi terbaikmu Katanya ikhsas itu hanya soal waktu, tapi bagiku ini perkara rumit Aku yang tak pernah bisa menggapaimu, kini harus siap menyambutmu pergi Tanpamu entah bagaimana nanti, tapi aku hanya akan bersedih secukupnya Membiarkan pilu ini membiru sampai jadi debu Lalu aku tak lagi ingat bagaimana caranya menghitung hari tanpamu