Langsung ke konten utama

Gn. Lembu via Jalur Baru (Sedong Asmiran)

Halo semuanya..
Apa kabar?

Okey, kali ini saya mau cerita soal pendakian saya ke gunung lembu pada 17 Agustus kemarin. Berteman dengan orang-orang yang hobby nya naik gunung, sudah bisa dipastikan moment penting begini mereka juga sedang melakukan pendakian. Kawan saya ada yang ke Gn. Slamet, Gn. Guntur, Gn. Sindoro dan lainnya. Dan ini jadi pengalaman pertama saya merayakan kemerdekaan indonesia di atas gunung, setelah sebelumnya hanya menonton acara pengibaran benderan di tv.

For your information..
Gunung lembu terletak di dekat waduk Jatiluhur, tepatnya di desa Pangindayan, Kecamatan Sukatani - Purwakarta. Ketinggiannya mencapai 792 mdpl. Saya baru tau kalau gunung lembu punya dua jalur pendakian, yang dimana satu jalur lainnya adalah jalur baru.

Dari jakarta kami naik mobilnya Pak Dori, beliau adalah rekan kerja kawanku Uwik. Kami berangkat kamis malam, sekitar jam 10, meponya di UOB Building. Kondisi jalanan jakarta malam itu, seperti biasanya long weekend, MACET. Astagah.. tapi yasudahlah apa mau dikata. Jalanin aja..

Perjalanan normal ke Purwakarta seharusnya hanya memakan waktu 3-4 jam, tapi kali ini kami disuguhkan realita jalanan yang bikin sedih. Sekitar jam 4 pagi kami baru tiba di camp pendakian. Fasilitas disana sudah cukup baik, ada kamar mandi dan bale bambu untuk istirahat.

Hari itu kami cukup beruntung.. ini karena ada warga yang menyediakan rumahnya sebagai basecamp pendakian. Ah saya lupa untuk foto lokasinya.

Awalnya kami berniat kejar sunrise, tapi berhubung baru sampai camp sepagi itu.. jadi kami pilih untuk istirahat dulu. Lagipula ada dua anak kecil (Abang : 9 tahun, Queen : 2 tahun) yang sangat tidak memungkinkan untuk mendaki dalam kondisi gelap.

Pos awal pendakian
Jam 7 pagi kami memulai pendakian lewat jalur Baru, namanya jalur Sedong Asmiran. Katanya nama itu diambil dari nama salah satu tokoh setempat. Di pos retribusi kami membayar 10ribu per orang plus 10ribu untuk parkir mobil.


Jalur awal pendakian adalah tanah setapak melewati hutan bambu.


Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, ini bukan jalur yang terbentuk oleh alam, melainkan jalur yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat. Kira-kira ada 12 orang yang turut membantu proses pembentukan jalur Sedong Asmiran, termasuk membuat rumah pohon di pos 1. Bukan hanya menyumbang tenaga, tapi 12 orang tersebut jugalah yang mendanai pembangunan tsb.

Bentuk treknya lebih mirip tangga gitu sih. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, kami sudah mulai disuguhi oleh tanjakan dengan kemiringan 45 derajat, lumayan extrem menurut saya. Disini hampir keseluruhan treknya adalah tanjakan dan tidak ada warung seperti di jalur lama. Kanan kiri jalan setapak yang kami lewati adalah jurang, jadi kami benar-benar harus memperhatikan langkah.

Setelah melewati hutan bambu dan tanjakan yang ngga ada habisnya, kami bertemu dengan sebuah batu yang di peluk akar pohon.


Ngga jauh dari tempat tadi, akhirnya kami sampai di Rumah Pohon. Pemandangan dari sini cantik sekali. Saya bisa melihat panorama waduk jatiluhur dengan epic.

Ngga lama kami istirahat di rumah bambu, kami melanjutkan langkah menuju puncak lembu.

Perjalanan masih di dominasi dengan tanjakan, menurut saya kali ini treknya sedikit (lebih) sulit dibanding sebelumnya. Bedanya kalau tadi kami melewati hutan bambu, kali ini kami beneran masuk hutan. Semakin ke atas, trek yang kami lewati semakin curam. Kami dihadapkan dengan batu berbukit dengan tangga kayu sebagai pijakan. Hanya ada seutas tali untuk membantu kami menjaga keseimbangan.


Sekitar 30 menit dari rumah pohon, kami tiba di Pos Batu Anying. 
Bentuk batunya besar dan menjulang tinggi. Ada sejarah yang saya dengar mengenai pos ini. Lembu kan artinya sapi. Nah pada jaman dahulu kala, sapi disini banyak dikejar-kejar oleh anjing liar. Para anjing itu nongkrongnya di sekitaran batu ini. Karena itulah.. tempat ini dinamakan Pos Batu Anying.



Puas istirahat di Batu Anying, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini jalan setapak yang kami lewati hanya selebar 30 centimeter. Salah langkah kami bisa masuk jurang. Makin ke dalam, hutan makin rapat.

Treknya benar-benar bikin dengkul lemas sodara. Tapi kalau diingat-ingat, semakin sering kami ketemu tanjakan, artinya puncak udah semakin dekat. Dan ternyata jalur baru ini mengantarkan kami untuk ke batu lembu terlebih dulu. Jarak dari batu lembu ke puncak hanya 100 meter. Kami putuskan untuk istirahat dan foto-foto dulu. Pemandangan dari sini khas sekali.




Puas berfoto dan istirahat, kami lanjut ke puncak lembu. Menikmati puncak dengan buka hammock dan bikin kopi bareng teman-teman. Ada beberapa pendaki yang melewati kami dan mereka saling bertegur sapa. Ngga berapa lama kemudian, sekumpulan monyet menghampiri kami. Sepertinya mereka tahu kami sedang masak sesuatu.


Tips : kalau bertemu monyet liar jangan panik, mereka ngga akan ganggu asal... jangan sekali-sekali kasih mereka makanan. Karena kalau satu monyet dikasih, dia akan panggil temennya yang lain. 

Ngga sabar buat mendaki gunung lainnya.

Segitu dulu ceritanya..
Terima kasih sudah baca. ❤

Komentar