Langsung ke konten utama

Jogja - Day 2

Hello good people!!
Ketemu lagi di hari kedua trip Jogja.

... the night before.

"besok sebangunnya aja ya."

Yap! Terlalu capek di hari pertama bikin energinya habis.
Hari kedua, niat awalnya kami mau hunting sunrise di Mangunan. Jam setengah lima seharusnya udah jalan ke lokasi. Tapiiii.. saya terlalu ngantuk untuk bangun jam 4 kawan-kawan. Hebatnya sih Tio udah bangun dari setengah empat pagi, tapi karena ngga ada balasan chat dari saya, akhirnya dia balik tidur lagi.

Baiklah, emang belum rejeki saya liat sunrise di Jogja. Mungkin lain waktu..

Jam 6-sekian, dengan muka setengah ngantuk, kami berangkat cari kopi di Indomart terdekat. Ya lumayanlah buat ganjel mata di perjalanan. Awalnya kami tetep mau ke Mangunan, tapi setelah saya pikir-pikir, terlalu maksa ah kalo harus ke Mangunan padahal Tio udah mengiyakan buat ke pantai yang jaraknya juga ngga deket. Jadilah saya pilih buat langsung berangkat ke pantai. Hitung-hitung menghemat energi juga sih..

1st Stop : Pantai Watu Lawang, Gunung Kidul

Perjalanan menuju ke pantai Watulawang sungguh panjaaaang sodara. Butuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai disana.

Fyi, Pantai Watulawang ini terletak di Kecamatan Tepus, Gunung kidul, Jogjakarta. Jaraknya sekitar 66 km dari pusat kota. Pantai ini menawarkan keindahan berupa bukit karang besar dengan pasir putih kecoklatan khas pasir pantai selatan. Pantai Watulawang diapit oleh dua pantai yang sudah terkenal lebih dulu, yakni Pantai Indrayanti di sisi Barat dan Pantai Pok Tunggal di sisi timur.

Menurut informasi yang saya baca di beberapa sumber, pantai ini digunakan oleh warga setempat untuk upacara Nyadran yang biasa dilakukan pada bulan Sya'ban (dalam kalender hijriah atau kalender Islam). Kenapa namanya Pantai Watulawang? Karena disini ada batu berbentuk seperti pintu yang berada di mulut goa. Katanya, goa tersebut merupakan jejak napak tilas dari Prabu Brawijaya VI. Mungkin ini yang dimaksud pintu goa..
Not sure sih.. hahaha ngga perhatiin juga.


...and guess what?!
Pantainya super sepiiiiiii... bener-bener sepiii.
Waktu sampai disana, cuma ada sepasang anak muda yang juga sedang menikmati pantai ini.


Nah saya lupa pernah baca dimana, disebutkan pantai ini terbagi dua bagian. Area pertama berada di sebelah barat goa, biasanya digunakan untuk upacara adat. Sedangkan area kedua ada di sisi timur, biasa digunakan untuk olahraga air a.k.a Snorkling. Selain itu, pantai ini juga bisa digunakan untuk aktifitas camping karena punya area landai dan agak tinggi sehingga aman untuk mendirikan tenda. Tapi, untuk peralatan campingnya harap bawa sesuai kebutuhan masing-masing ya.. karena disini ngga menyediakan tempat sewa. Yang penting tanggung jawab dengan sampah yang dibawa.

Sayangnya saya kesana di bulan agustus saat air laut pasang, jadi saya ngga bisa menikmati susunan batu karang di dasar airnya secara maksimal. Padahal menurut review yang beredar, pemandangan batu karang disini cantik sekali.

Tapiii.. emang juara sih kerennya pantai ini. Terutama ya karena minim wisatawan.. serasa pantai pribadi. Cocok banget buat yang mau rehat sejenak menenangkan diri setelah di gempur abis-abisan sama tuntutan kerja atau buat kalian yang sedang patah hati :(




Setelah menyadari kalau matahari mulai merangkak tinggi, kami memutuskan pulang sebelum makin gosong. Bodohnya kami saat itu adalah ngga pake sunscreen sama sekali.

Tips 1 : Jangan lupa pake sunscreen dengan SPF 50+++ 
Tips 2 : Jangan lupa waktu sholat. Penting ini...!!

2nd Stop : Mie Ayam Bu Tumini

Kata Tio, Mie ayam bu tumini adalah salah satu yang paling enak di Jogja. Beralamat di Jalan Imogiri Timur 187 Umbulharjo, mie ayam ini kabarnya sampai menjual 700 mangkok per harinya dan sudah mulai berjualan sejak tahun 90an. Legendaris ya berarti..

Yang saya perhatiin, ada perbedaan paling mencolok antara mie ayam bu tumini dengan mie ayam lainnya, yakni ukuran mie nya yang cukup besar dengan kuah kental yang berwarna kecoklatan. Rasanya gurih manis kalau belum ditambah sambal. Menurut beberapa sumber, untuk menjaga konsistensi rasa mie ayamnya mereka sampai menghabiskan 70 kilogram tepung dan 50 kilogram daging ayam setiap harinya.

Mereka buka mulai jam 10.00 pagi sampai mie nya habis. Nah katanya, mie ayam bu tumini ini ngga punya cabang. Jadi kalau mau nyicipin kelezatan mie ayamnya, kalian harus antre di warungnya.

Ada 5 menu andalan di warung mie ayam bu tumini ini, diantaranya :
1. Mie Ayam Biasa 8ribu
2. Mie Ayam Jumbo 10ribu
3. Mie Ayam Extra Ayam 10ribu
4. Mie Ayam Ceker 10ribu
5. Sawi Ayam 5ribu

3rd Stop : Tempo Gelato

Ngomong-ngomong Jogja, ngga lengkap rasanya kalo ngga icip-icip gelato nya. Sepakat ngga? hahhaa tapi khusus soal ini, saya mau bahas di lain judul aja :)

4th Stop : Angkringan

Beda dengan gelato, liburan ke Jogja ngga marem rasanya kalau belom mampir ke Angkringan, tempat nongkrong ala Jogja yang bikin semua jatuh hati. Malam ini saya menikmati makan angkringan kopi joss di depan stasiun Tugu. Menurut Tio, harga makanan disini lebih murah ketimbang angkringan yang ada di jalan Malioboro.

Dan akhirnya saya bisa icip-icip yang namanya Kopi Joss. Sebagai penikmat kopi, sudah pasti saya ngga mau ketinggalan dengan sensasi dari kopi legendaris ini. Sebenarnya kopi joss adalah kopi hitam biasa. Cuma kabarnya biji kopi yang digunakan pedagang disini adalah biji kopi tradisional yang didatangkan langsung dari Klaten.  Kopi ini menjadi unik karena bara arang yang dicelupkan ke dalam kopi dalam kondisi menyala sehingga menimbulkan suara khas. Harga segelas kopi joss berkisar 5ribu rupiah saja.

Selain kopi, angkringan disini juga menjajakan aneka cemilan lainnya. Mulai dari sego kucing, gorengan sampai berbagai macam sate. Tinggal pilih mana yang sesuai selera. Karena ini minggu malam, suasana di sekitaran stasiun tugu cukup ramai. Mereka terlihat asik kumpul dengan kawan-kawannya.

5th Stop : Jalan Malioboro

Well, semua pasti sepakat.. Selain Gelato dan Angkringan Kopi Joss, ngga afdol ke Jogja tanpa menyambangi Jalan Malioboro. Yep! Ini adalah kawasan belanja paling legendaris di Jogja. Saya cinta banget sama suasana disini, rame nya tuh Jogja banget. Beda deh ramenya Jogja sama Jakarta.

Di Malioboro sekarang udah lengkap. Mulai dari jajanan tradisional sampai makanan western ada, mau beli baju di toko klontong atau di mall pun bisa. Mau menginap di hostel atau di hotel pun monggo tinggal pilih. Belum lagi soal harga yang sudah pasti murah meriah, apalagi kalau kalian punya keahlian dalam tawar menawar.

Ketika saya jalan di sekitaran malioboro, langkah saya ditemani musik gamelan jawa yang dimainkan oleh para musisi jalanan. Tempat ini ngga ada matinya, hidup selama 24 jam penuh.

Ngga banyak yang saya lakukan di Malioboro. Sekedar jalan-jalan santai, menikmati Jogja di malam hari terus beli baju, kelar.. pulang deh.

"Jogja dan secangkir kopi, kehangatan yang selalu membuat rindu."

Segitu dulu ceritanya ya. Terima kasih sudah baca.
Sampai ketemu di Jogja - Day 3

Cao! ❤

Komentar