Langsung ke konten utama

Gunung Gede via Cibodas

Hai semuanyaaa..
Apa kabar? Hope you enjoy your time yaaa.

Oke, kali ini saya mau cerita soal pendakian saya ke Gunung Gede bulan April yang lalu. Setelah berkali-kali di rencanakan, akhirnya saya bisa menapaki gunung tertinggi ketiga di Jawa Barat ini (ketinggi kedua Gunung Pangrango ternyata).

Sedikit info.. 
(yang mungkin kawan-kawan semua juga udah tau ya..)

Gunung Gede ini masih di lingkup Taman Nasional Gede Pangrango. Ketinggiannya mencapai 2.958 mdpl. Gunung Gede punya tiga jalur pendakian, diantaranya jalur Cibodas, jalur Selabintana di Sukabumi dan jalur Putri di Cipanas. Kabarnya, jalur selabintana adalah jalur terpanjang pendakian sedangkan yang terpendek a.k.a jalur favoritnya pendaki adalah jalur putri. Soalnya kalo naik gede lewat putri, kalian akan ketemu sama si cantik Edelweiss di alun-alun suryakencana. Tapi sebenernya, surganya pendakian gunung gede adanya di jalur cibodas karena bonusnya banyaaaaak banget. Treknya juga relatif lebih mudah dibanding dua jalur lainnya. Sebelum pendakian, kalian harus melakukan booking online minimal H-30 yaaaa.

Untuk ketentuan pendakian, kalian bisa cek disini : Taman Nasional Gede Pangrango

Pendakian ke gunung gede ini digawangi oleh kawan-kawan saya di Backpacker Jakarta, sekitar 9 orang yang berangkat. Sebenarnya ke Cibodas lebih dekat kalau ditempuh lewat jalur puncak, sialnya jalur puncak saat itu sedang longsor. Jadilah kami ke cibodas lewat jalur cibubur-jonggol. Sumpaah.. itu jauuuuuhh banget dan jalanannya masih agak horor walau katanya sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu. Kami naik bis jurusan Cibodas dari Terminal Kp. Rambutan, berangkat jam 11 malam.

Bis yang kami tumpangi berhenti di Pasar Cibadak, katanya itu pemberhentian terakhir bagi yang mau ke Cibodas. Saya lupa tepatnya, tapi sepertinya kami sampai Cibadak sekitar jam 3 pagi. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan sewa angkot sampai camp pendakian.

Harga tiket bis Kp rambutan - Pasar Cibadak : 30ribu / orang
Harga sewa angkot (setelah nego) : 10ribu / orang
Simaksi : 80 / 90 ribu per orang (lupa)

Alhamdulillah.. Setelah menempuh 1 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di camp pendakian. Dengan muka terkantuk-kantuk, kami istirahat sejenak disini. Suasana pagi itu dingiiiiiin bangeeet. Tapi tenang, dinginnya masih bisa dihalau jaket kok, ngga sampe bikin menggigil kayak pas saya ke Dieng. Hahaha
Nah sambil menunggu agak terang, kami memilih untuk isi perut dulu supaya ada tenaga saat pendakian nanti. 

Tips : 
1. Pake jaket gunung (atau jaket tebal yang bisa menghalau dingin)
2. Sarapan seimbang (jangan mie instan)

Kurang lebih jam 6 pagi kami memulai pendakian. Diawali dengan doa bersama, kami memohon keselamatan dan kelancaran selama dalam perjalanan. Meluruskan niat, bahwa disini bukan untuk gaya-gayaan melainkan untuk refleksi diri. #tumbenbener

Setelah memastikan peralatan dan kelengkapan logistik, kami berangkat.



Permulaan...

Trek pendakian awal didominasi oleh batu yang sudah tersusun rapi melintasi hutan tropis. Kalau beruntung, kamu akan bertemu monyet yang berkeliaran bebas. Suara jangkrik terdengar bersahutan menyambut para pendaki. Sekitar 1-2 kilometer berjalan, saya disuguhi bonus pertama jalur Cibodas, yakni Telaga Biru. Tapi sayang sekali, saat itu sedang musim hujan jadi telaganya sedang tidak biru.

Sedikit info soal Telaga Biru yang saya baca dari beberapa sumber. Telaga biru ini memiliki luas sekitar 5 hektar dan terletak pada ketinggian 1575 mdpl (kurang lebih 1.5 km dari pos awal pendakian). Karena terletak di tengah hutan, suasana disini masih sangat sejuk. Kenapa airnya biru? Ini dikarenakan ganggang biru di perairan telaga. 

Puas menikmati keindahan Telaga Biru, kami kemudian berjalan lagi dan bertemu simpangan untuk ke Air Terjun Cibeureum atau ke Puncak Gunung Gede. Karena tujuan awal kami adalah puncak, jadi kami tidak mampir ke Cibeureum. 

Setelah melewati persimpangan tadi, saya bertemu dengan Rawa yang menurut teman-teman namanya Rawa Denok 1 dan Rawa Denok 2. Tapi kesan rawanya sudah hilang karena jalurnya sudah dibuatkan semacam jembatan permanen gitu. Lokasi ini disebut-sebut sebagai salah satu spot instagramable jalur Cibodas. Wajar sih.. spotnya memang cantik banget. Saya dan tim memilih istirahat sejenak disini. Foto-foto sambil menikmati hutan tropis yang masih sangat asri. 




Perjalanan kami lanjutkan kembali. Saya dan kawan-kawan saya mulai kehabisan energi. Tapi sayangnya jalur yang tadi dilewati masih tergolong trek surga, setelah melewati rawa denok kami mulai berhadapan dengan trek terjal dan menanjak. 

Entah sudah berapa lama berjalan, kami akhirnya sampai di Jalur Air Panas. Harus ekstra hati-hati saat melewati trek ini. Karena air panasnya mengalir dibawah batu tempat kaki berpijak, kalian hanya akan dibantu seutas tali untuk menjaga keseimbangan. Kalau sampai terpeleset, bisa bahaya. Disini, kaki saya sempat kemasukan air dan itu panas banget.. aslik bisa buat bikin kupi sodara-sodara .-.

Tips : kalau bisa pake sepatu gunung yang waterproof supaya aman dari Jalur Air Panas ini.


...akhirnya setelah berjam-jam perjalanan, kami sampai di Pos Kandang Batu. Badan saya mulai rontok. 

Tempat ini katanya adalah pos camp pertama jalur pendakian gede via cibodas. Jadi kalo sampe Kandang Batu udah mulai gelap, mending langsung buka tenda aja. Gamau kaan lagi pendakian terus ketemu yang aneh-aneh. Kita ngga pernah tau dalemnya hutan apa hihihi..

Tapi berhubung kami sampai kandang batu masih siang, sekitar jam 1.. jadi kami cuma numpang foto bentar terus lanjut deh.


Setelah Telaga Biru, Rawa Denok dan Jalur Air Panas.. Cibodas masih menyimpan bonus lainnya, yaitu Air Terjun Panca Weuleuh. Ngga afdol rasanya kalo ketemu bonus sekece gini ngga dimanfaatkan buat foto-foto dulu hahaha dasar anak muda!

Untuk berfoto disini, kalian harus sedikit turun ke area air terjun melewati tanah yang cukup licin.


Puas foto disitu, kami melanjutkan perjalanan buat ke Pos Kandang Badak. Yep, kami harus buru-buru sampe sana sebelum asar karena perjalanan menuju puncak masih teramat jauh kawan. Treknya lumayan enak, jalurnya datar-datar aja gitu.

Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di pos legendaris ini. Legaaa banget rasanyaaa oh Tuhaaann..

Fyi, tim saya waktu itu kepecah dua. Tim depan dan tim belakang. (jangan ditiru!!)
Nah tim depan ini udah sampai di kandang badak lebih dulu, sedangkan kami (tim belakang) baru sampe kandang badak satu jam setelahnya. Mereka yang duluan sampe berinisiatif buat buka tenda, istirahat - makan - sholat.

Kandang Badak ini adalah pos favorit pendaki buat mendirikan tenda. Selain lokasinya yang emang luas, sumber airnya juga melimpah. Fasilitasnya sudah lengkap, ada kamar mandi, warung dan mushola bagi yang mau sholat. Dari sini akan ada persimpangan buat kalian yang mau ke Puncak Pangrango atau Puncak Gede. 

Siang itu kami di guyur hujan lumayan deras. Udara yang awalnya udah dingin jadi semakin dingiinn. Tenda kami dibuat kuyup. Sialnya, kami tidak membuat jalur air saat membangun tenda.. jadi air hujan membuat tenda kami sedikit kebanjiran. Tapi alhamdulillah hujannya ngga berlangsung lama. Walau begitu, kami cukup di buat menggigil, HIKS..

Selepas hujan, kami iseng iseng masak mie instan dan kopi buat menghangatkan badan. Kebersamaan kayak gini nih yang bikin saya kangen buat naik gunung.

Ada pemahaman yang beredar diantara para pendaki, katanya proses mendaki gunung adalah proses mengenal diri sendiri atau introspeksi diri. Dengan mengenal alam, kita akan sadar betapa kecilnya kita sebagai manusia dan sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Manusia tuh ngga pantes sombong-sombongan di depan Tuhan. Selain itu, dari pendakian juga akan kelihatan karakter masing-masing orang. Gimana tingkat kepeduliannya ke temen, kepeduliannya ke alam, corat-coret gunung atau ngga, tanggung jawab terhadap sampah yang dibawa atau ngga, egois atau ngga. Nah, buat yang lagi pedekate dan pengen tau karakter orang yang lagi dideketin/ yang lagi deketin.. coba deh ajak naik gunung hahaha

Selepas sholat asar, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak gede. Disini kami kembali menghanturkan doa kepada Yang Maha Kuasa, minta keselamatan selama perjalanan summit. Ini dikarenakan jalur pendakian yang akan kami lewati akan lebih curam dibanding sebelumnya. Kabarnya kemiringan bisa mencapai 70 derajat. Wuuuhhh!!! Kami komit buat summit bareng-bareng, ngga kepecah lagi. Supaya kalau (amit-amit) ada apa-apa bisa dihandle bareng. 

Perjalanan summit ke puncak memakan waktu kurang lebih 3 jam. Kami berangkat selepas asar, baru sampai atas selepas maghrib. Seharusnya jalur ini cantik banget kalau dilewatin pas siang hari. Mirip wood di negeri dongeng gitu.. tapi berhubung kami lewatnya pas gelap, jadi gak keliatan maksimal cantiknya.

Katanya kalo naik gunung malem-malem jangan liat ke atas, takut ada yang ngeliatin balik hahhaha

Setibanya di atas, ucap syukur adalah hal pertama yang kami lakukan. Bersyukur karena diberi kekuatan fisik dan kelancaran selama perjalanan sehingga kami bisa ada di titik ini.

Kami memutuskan buka tenda di dekat puncak. Tujuannya supaya bisa istirahat total dan menikmati sunrise dengan santai. Jarak dari camp ke puncak cuma sekitar 15 menit. Ada sekitar 7 tenda di lokasi itu. Ada warung jugaaaak.. thanks god hahaha 

Yep. Jadi inilah puncak kedua saya setelah Guntur, Puncak Gunung Gede. 
Alhamdulillah...




Untuk perjalanan turunnya, nanti diceritain di lain judul ya.
Terima kasih sudah baca..
I'll see you again ❤

Komentar