Langsung ke konten utama

Prolog

"Ben lo beneran dijemput sama Dika?" tanya Aga sambil meletakkan secangkir kopi panas yang dia pesan dengan ojek online.
"Satu jam yang lalu sih dia bilang udah on the way kesini, Ga." kataku sambil tetap fokus dengan laporanku yang diminta Pak Asep. "Lo kalo mau duluan gapapa kok" kataku lagi setelah mengecek jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 10.15 malam. 
"Bener?"
"Ya harusnya bentar lagi dia sampe, macet di bunderan HI kali Ga."
"Yaudah gue duluan ya Ben." katanya sambil menepuk pundakku pelan. "Kalo dia ngga jadi jemput, lo kabarin gue." 

Jika bukan karena Pak Asep yang mendadak dibuatkan laporan untuk presentasi besok, aku pasti sudah tidur nyenyak di kamar apartment. Aku terus mengumpat di dalam hati.

Tak lama setelah Aga pergi, Dika datang membawa kopi yang biasa ku pesan. 

"Aku mau kita putus." katanya sambil menatapku dalam-dalam. Suaranya terdengar tegas walau pelan.
Aku tercekat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan laki-laki yang ku kenal sejak 7 tahun lalu. 
"Ada apa?" tanyaku singkat.
"Aku udah ngga bisa di hubungan ini." perlahan dia mengangkat kepalanya, mata kami saling tertuju. "Sorry Ben."

Lalu kita selesai bicara.

Cuaca malam itu terasa seperti sedang berkabung. Terlihat dari kaca-kaca besar disamping meja kerjaku, diluar sedang turun hujan. Sudah satu jam kami disini, sudah bertahun-tahun aku mengenalnya, tapi malam ini semua terasa asing. Dia seperti orang lain bagiku. 

***

"Udah satu tahun yang lalu, tapi gue masih ditempat yang sama." kataku pelan. Mataku terasa panas, lalu sedetik kemudian airmataku menetes pelan di ujung mata.

"Gak gampang Ben, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi gue yakin lo bisa melewati ini." kata Aga sambil menepuk-nepuk pundakku pelan. "Sedih boleh, bego jangan."

Aku tersenyum simpul mendengar kalimat terakhir Aga. 

Semilir angin pantai menerpa tubuhku. Deburan ombak syahdu menentramkan malam yang semakin sepi. Kami yang awalnya berencana camping di bibir pantai, mendadak ragu. Aku tergugu oleh pikiranku sendiri. Memikirkan segala kemungkinan jika kami masih bersama. 

"Ben, udahlah. Just let him go." 

***


Komentar